BALIKPAPAN, Pranala.co — Bayang-bayang kekeringan akibat fenomena El Nino 2026 mulai menjadi perhatian serius di Kota Balikpapan. Untuk mencegah terganggunya pasokan air bersih, Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) menyiapkan langkah antisipasi menyeluruh agar layanan tetap terjaga di tengah potensi krisis air.
Direktur Utama PTMB, Yudhi Saharuddin, menegaskan bahwa seluruh strategi yang disiapkan berbasis pada perhitungan matang dan simulasi terukur. “Semua kami hitung secara detail, mulai dari potensi penurunan air baku hingga dampaknya terhadap produksi dan distribusi,” ucapnya, Kamis (2/4/2026).
Terlebih, fenomena El Nino diperkirakan mulai berlangsung pada April dan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026. Kondisi ini menjadi ancaman serius karena sistem penyediaan air di Balikpapan masih sangat bergantung pada sumber tadah hujan, terutama Waduk Manggar.
Dalam situasi normal, menurutnya, permukaan air waduk dapat turun hingga 5 sentimeter per hari. Namun dengan minimnya curah hujan dan berkurangnya inflow, penurunan tersebut berpotensi terjadi lebih cepat, disertai penurunan kualitas air akibat meningkatnya kekeruhan, masuknya pasir dan udara ke sistem pompa, serta pertumbuhan gulma.
Saat ini, kata Yudhi, layanan PTMB telah menjangkau sekitar 77,02 persen kebutuhan masyarakat. Tingginya tingkat ketergantungan ini membuat potensi gangguan pasokan harus diantisipasi sejak dini.
Dia melanjutkan, dalam menghadapi potensi El Nino, kesiapsiagaan telah dibahas dalam rapat koordinasi strategis antara PTMB dan Balai Wilayah Sungai (BWS) Wilayah IV pada 31 Maret 2026 lalu. Pertemuan tersebut menghasilkan berbagai skema teknis untuk menjaga ketahanan suplai air di Kota Balikpapan di tengah potensi penurunan drastis sumber air baku.
Sebagai langkah awal, PTMB bersama BWS akan mengoptimalkan tampungan Waduk Manggar dengan menutup seluruh pintu spillway. Selain itu, diterapkan skenario pengambilan air sebesar 75 persen dengan asumsi inflow hanya 50 persen guna menjaga kestabilan volume air.
Di sektor operasional, skema distribusi adaptif juga disiapkan. Jika produksi turun di bawah 70 persen, distribusi akan dilakukan secara bergilir dari wilayah hulu ke hilir agar tetap merata.
Untuk menghadapi kondisi darurat, Yudhi menyebut, PTMB menyiagakan sekitar 15 unit armada tangki air yang diprioritaskan bagi kawasan dengan elevasi tinggi, daerah terjauh, serta fasilitas vital seperti rumah sakit dan layanan publik.
Selain itu, langkah jangka menengah juga disiapkan melalui pengembangan sumber air alternatif, seperti reaktivasi sumur bor tidak aktif, pembangunan dua sumur bor baru, serta optimalisasi bendali sebagai sumber tambahan.
PTMB juga membuka peluang pengajuan dukungan anggaran ke pemerintah pusat untuk memperkuat infrastruktur air bersih sebagai bagian dari upaya mitigasi.
Yudhi juga menekankan bahwa keberhasilan menghadapi El Nino tidak hanya bergantung pada kesiapan teknis, tetapi juga kesadaran masyarakat.
“Kondisi ini adalah tantangan bersama. Penggunaan air yang bijak menjadi kunci agar distribusi tetap merata dan krisis bisa dihindari,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, PTMB akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Balikpapan untuk mengeluarkan imbauan resmi penghematan air serta meningkatkan literasi masyarakat terkait dampak El Nino.
Yudhi mengimbau masyarakat mulai menerapkan pola hemat air, seperti mengurangi penggunaan berlebih, menampung air saat distribusi berlangsung, serta memanfaatkannya secara efisien.
“Air adalah kebutuhan dasar yang harus dijaga bersama. Dengan kesiapan dan kesadaran kolektif, kita bisa menghadapi situasi ini tanpa mengganggu pelayanan,” terangnya. (SR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















