Ekonomi Mulai Menggeliat, Iklim Investasi Kaltim Bisa Meningkat

Ilustrasi Pelabuhan Ferry Kariangau, Balikpapan, Kaltim.

PRANALA.CO, Samarinda – Ekonomi Kaltim perlahan-lahan membaik jelang pengujung tahun. Itu terbukti dari capaian pada triwulan III 2020 sebesar 4,61 persen. Jika dibandingkan dengan triwulan II, pertumbuhan ekonomi Benua Etam hanya 2,39 persen (q-to-q).

Kondisi ini tentu menjadi sinyal baik untuk meningkatkan iklim investasi. Sebab beberapa bulan terakhir sektor ekonomi ini digempur pandemik virus corona atau COVID-19.

Menurut Tutuk SH Cahyono, kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kaltim, indikator Environment Social Governance dinilai sebagai sebuah ukuran yang dilihat oleh para investor luar negeri. Jika itu dijaga maka dengan sendirinya investasi berkualitas akan masuk ke Indonesia, terutama Kaltim.

Tutuk menerangkan, Kaltim perlu mengadaptasi metode Tiongkok dalam urusan pertumbuhan ekonomi di kawasan industri. Nah, Kaltim punya potensi itu lewat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) di Kutai Timur. Maupun di Kawasan Industri Kariangau (KIK) di Balikpapan. Hingga saat ini belum ada yang mampu menampung industri pengolahannya.

“Bisa jadi ada problem. Bisa jadi berkaitan dengan sewa lahan, listrik hingga konektivitas infrastruktur dan upah. Sesuai produktivitas tenaga kerjanya atau tidak,” terangnya.

Dia menerangkan, saat ini BI dan pemerintah daerah mendorong arah investasi dengan memastikan proyek-proyek yang ada. Bukan hanya clean and clear dari perspektif pemerintah saja. Tetapi juga dari perspektif investor luar negeri. Kawasan industri yang berada di Kaltim ini dinilai penting. Karena dapat menjadi pendongkrak pertumbuhan ekonomi Benua Etam. Di sisi lain, industri yang menjadi tumpuan Kaltim saat ini dinilai belum mampu berdampak terhadap terbukanya lapangan pekerjaan luas.

“Kaltim ini punya tambang besar, ekstraktif tetapi lapangan kerja yang dicetak itu kecil. Yang besar itu perdagangan,” sebutnya.

Dia juga menambahkan, saat ini juga perlu dipikirkan mengenai hilirisasi industri. Misalnya, rencana batu bara yang diubah menjadi metanol yang disebut sudah dapat kontrak panjang. Ada pula energi terbarukan sektor hydropower di Sungai Mahakam. Panjang sungai ini mencapai 980 kilometer. Dan itu bisa jadi sumber tenaga listrik bagi Bumi Mulawarman.

“Kalau nanti menjadi IKN (ibu kota negara) baru, jadi kita tidak bingung lagi sumber masalah energi,” tutupnya.

 

 

[idn]

More Stories
Rp32 Miliar Anggaran DPRD Bontang Digeser untuk Covid-19