Pranala.co, BONTANG — Rencana Pemerintah Kota Bontang membangun 15 lapangan mini soccer di setiap kelurahan menuai perhatian serius dari publik. Di tengah kondisi fiskal daerah yang kian terbatas, program tersebut dinilai belum mendesak dan berisiko menyedot anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk kebutuhan masyarakat yang lebih mendasar.
Sorotan itu turut datang dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bontang. Wakil Ketua Komisi C DPRD Bontang, M. Sahib, menyebut pembangunan lapangan mini soccer memang tercantum dalam janji politik Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni dan Wakil Wali Kota Agus Haris saat masa kampanye. Namun, menurutnya, realisasi janji tersebut tetap harus mempertimbangkan kondisi keuangan daerah dan skala prioritas pembangunan.
“Janji politik tentu perlu diwujudkan. Tetapi ketika kondisi fiskal sedang tidak baik, kepala daerah juga dituntut untuk lebih bijak menentukan prioritas,” ujar Sahib, Senin (9/2/2026).
Sahib mengungkapkan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Bontang saat ini mengalami penurunan signifikan. Kondisi tersebut menuntut pemerintah daerah untuk lebih selektif dalam menyusun program pembangunan agar anggaran yang terbatas dapat memberi dampak seluas-luasnya bagi masyarakat.
“Fiskal kita sedang anjlok. Artinya, anggaran harus difokuskan pada kebutuhan yang paling mendesak dan dirasakan langsung oleh masyarakat,” jelasnya.
Meski demikian, DPRD tidak sepenuhnya menutup peluang pembangunan lapangan mini soccer. Sahib menegaskan, apabila pemerintah memiliki kajian kuat dan kebutuhan masyarakat benar-benar mendesak, program tersebut tetap bisa dipertimbangkan untuk direalisasikan.
“Hanya saja, untuk kondisi saat ini, menurut saya lapangan mini soccer belum masuk kategori prioritas,” tegasnya.
Infrastruktur Dasar Dinilai Lebih Mendesak
Menurut Sahib, masih banyak persoalan di Kota Bontang yang membutuhkan perhatian lebih serius. Ia menyebut sejumlah sektor yang dinilai lebih mendesak, seperti perbaikan infrastruktur sekolah, penanganan banjir, serta pembangunan dan perbaikan jalan di berbagai wilayah.
Ia mencontohkan kondisi jalan di RT 01 Kelurahan Kanaan, Bontang Barat, yang hingga kini masih berupa tanah dan belum tersentuh pengaspalan. Permasalahan tersebut, kata dia, membutuhkan anggaran besar, namun manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
“Beberapa waktu lalu kami dari Komisi C melakukan inspeksi lapangan. Masih banyak jalan rusak parah. Anggaran pembangunan lapangan mini soccer sebenarnya bisa dialihkan untuk perbaikan jalan. Kalau lapangan, tidak semua warga bisa merasakan manfaatnya,” ungkapnya.
Kendati memberikan kritik, Sahib tetap menyatakan optimisme terhadap kepemimpinan wali kota dan wakil wali kota yang baru memasuki tahun pertama masa jabatan. Ia menilai masih tersedia cukup waktu bagi pemerintah daerah untuk melakukan pembenahan secara bertahap dan terukur.
“Masih banyak waktu untuk berbenah. Saya optimistis persoalan-persoalan di Bontang, termasuk banjir, bisa ditangani. Untuk sektor pendidikan, saya melihat perkembangannya cukup baik dengan berbagai stimulus dari pemerintah,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Sahib kembali mengingatkan pentingnya kebijakan anggaran yang berpihak langsung pada kepentingan masyarakat.
“Gunakan anggaran sebijak mungkin. Prioritaskan program yang manfaatnya benar-benar dirasakan warga, agar kehadiran pemerintah terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















