Data Pemprov dan Pemkot Kerap Beda, Ini Penjelasan Jubir Covid-19 Kaltim

  • Whatsapp
Plt Kepala Diskes Kaltim, dr Andi M Ishak.

DATA penyebaran Covid-19 antara Pemprov Kalimantan Timur dan beberapa kab/kota di Kaltim, termasuk Kota Bontang kerap berbeda. Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Kaltim, Andi Muhammad Ishak pun angkat bicara.

Melalui teleconference aplikasi Zoom Cluod Meeting, Andi mengakui terdapat sejumlah perbedaan informasi terkait jumlah orang dalam pemantauan (ODP), pasien dengan pengawasan (PDP) maupun pasien yang terkonfirmasi antara yang dirilis provinsi dan kabupaten kota seringkali terjadi perbedaan data.

Bacaan Lainnya

Kejadian beda data pernah terjadi saat Tim Gugus COVID-19 Bontang mengumumkan pasien sembuh sebanyak dua orang, Ahad (17/5). Mereka BTG-5 dan BTG-8. Namun, data rilis Pemprov Kaltim hanya 1 pasien sembuh hari itu, yakni hanya BTG-8. Barulah, esoknya, Senin (18/5) Pemprov merilis BTG-5 sembuh.

Serupa di Kutai Kartanegara. Berdasarkan versi Gugus Tugas Covid-19 Kukar, jumlah kasus positif di Kukar sebanyak 40 kasus. Sedangkan data versi Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Kaltim menyebutkan jumlah kasus positif Covid-19 di Kukar 41 kasus.

Dia bilang perbedaan data dan informasi tersebut satu di antaranya karena karena pelaporan data terjadi pada waktu yang berbeda saat closing data. “Benar kadang sering ada beda data. Ini terjadi karena pelaporan data terjadi pada waktu yang berbeda closing data,” ujar Andi Muhammad Ishak.

Hal lain yang menyebabkan perbedaan data, menurut Andi Muhammad Ishak adalah tidak semua hal yang dilaporkan ke Provinsi. Sehingga beberapa hal juga bisa terjadi perbedaan perbedaan. Namun, dia menjamin senantiasa tetap memperbaharui perkembangan kasus sesuai dengan data yang diberikan.

“Kami tetap jamin datanya terus diperbaharui. Sebagai wujud tanggung jawab kami untuk memberikan data sebenar-benarnya,” tegasnya.

Persoalan lainnya dalam perbedaan data tersebut, imbuh Andi adalah tidak semua Orang Dalam Pengawasan (ODP) maupun Orang Tanpa Gejala (OTG) dilakukan uji test swab dan tidak dilapor secara penuh. Tetapi Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dilakukan uji swab semua sehingga bisa menyebabkan perbedaan data.

“Semuanya nanti sama setelah dikonfirmasi. Apa yang kami rilis di provinsi adalah semua data yang dirilis atau terkonfirmasi oleh pusat,” pungkas Andi Muhammad Ishak. (*)

Pos terkait