Pranala.co, SANGATTA — Aktivitas truk pengangkut material perusahaan semen yang melintasi kawasan permukiman Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, mulai mendapat perhatian serius dari Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim).
Diskes Kutim memastikan akan menelusuri data kesehatan masyarakat, khususnya terkait infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan potensi dampaknya terhadap kasus stunting. Langkah ini dilakukan menyusul kekhawatiran warga terhadap paparan debu dari lalu lintas kendaraan berat yang intens di wilayah tersebut.
Kepala Diskes Kutim, Yuwana Sri Kurniawati, menjelaskan bahwa secara medis, debu yang terhirup dalam jangka waktu tertentu berpotensi mengganggu sistem pernapasan.
“Debu dari aktivitas kendaraan berat bisa masuk ke saluran pernapasan. Secara teori dan medis, kondisi ini dapat memicu gangguan pernapasan, termasuk ISPA. Apakah terjadi peningkatan kasus atau tidak, itu yang akan kami cek melalui data,” ujar Yuwana, Selasa (9/2/2026).
Ia menambahkan, kawasan permukiman yang terpapar debu secara terus-menerus berisiko mengalami dampak kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Karena itu, Diskes Kutim akan meninjau perkembangan data kasus ISPA terbaru di wilayah Bengalon, termasuk Desa Sekerat.
Tak hanya ISPA, Diskes Kutim juga menaruh perhatian pada dampak lanjutan yang mungkin terjadi, khususnya terhadap tumbuh kembang anak.
Yuwana menjelaskan, infeksi saluran pernapasan yang terjadi berulang pada bayi dan balita dapat memengaruhi kondisi kesehatan secara keseluruhan, termasuk proses pertumbuhan.
“Jika bayi atau balita sering mengalami infeksi saluran pernapasan atas, hal itu bisa berdampak pada asupan gizi dan tumbuh kembangnya. Secara teori, ada korelasi dengan risiko stunting,” jelasnya.
Meski begitu, Diskes Kutim menegaskan belum menarik kesimpulan apa pun. Hingga kini, pihaknya belum memastikan adanya peningkatan kasus ISPA maupun stunting yang secara langsung berkaitan dengan aktivitas truk semen di Desa Sekerat.
“Untuk angka pastinya, khusus Desa Sekerat, kami belum melihat data secara rinci. Itu yang akan kami evaluasi lebih lanjut,” pungkas Yuwana.
Pengecekan data ini diharapkan menjadi dasar bagi langkah lanjutan pemerintah daerah dalam memastikan aktivitas industri tidak mengorbankan kesehatan masyarakat, sekaligus menjaga kualitas lingkungan permukiman warga. (HAF)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















