Pranala.co, BALIKPAPAN – Hujan lebat disertai angin kencang yang melanda Kota Balikpapan, Minggu (8/2/2026) sore, berubah menjadi petaka. Fenomena cuaca ekstrem berupa puting beliung menerjang permukiman warga, merobohkan bangunan, dan merenggut satu korban jiwa.
Peristiwa tragis tersebut terjadi sekira pukul 17.10 Wita, setelah hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat disertai petir mengguyur Balikpapan sejak pukul 15.00 Wita. Cuaca buruk berlangsung hampir tiga jam dan memicu berbagai dampak serius di sejumlah wilayah kota.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Balikpapan, Djoko Sumardiono, memastikan bahwa kejadian tersebut merupakan fenomena puting beliung yang berdampak langsung pada kawasan permukiman. “Puting beliung terjadi di wilayah Kota Balikpapan dan menyebabkan korban jiwa serta kerusakan,” ujar Djoko, Senin (9/2/2026).
Akibat hujan deras yang berlangsung hingga pukul 18.00 Wita, sejumlah pohon tumbang, tiang listrik roboh, dan rumah warga mengalami kerusakan. Wilayah yang terdampak langsung puting beliung berada di Jalan Telaga Mas, Balikpapan Barat, tepatnya di kawasan Kampung Baru. Sementara kejadian pohon tumbang tercatat di wilayah Gunung Pipa.
Korban jiwa dalam peristiwa ini diketahui bernama Anggi, seorang pedagang gulali asal Garut. Saat kejadian, korban tengah berteduh di sekitar lokasi yang terdampak cuaca ekstrem.
Selain menelan korban jiwa, BMKG juga menerima laporan kerusakan rumah warga serta robohnya tiang listrik di kawasan terdampak. Djoko menjelaskan, curah hujan tinggi sejak pukul 15.00 Wita memicu pertumbuhan awan konvektif yang kuat, yang menjadi pemicu utama terjadinya puting beliung di Balikpapan.
Berdasarkan analisis dinamika atmosfer pada 8 Februari 2026, BMKG mencatat Southern Oscillation Index (SOI) berada di angka +12,6, yang tergolong signifikan dalam meningkatkan aktivitas konvektif. Sementara indeks ENSO NINO 3.4 tercatat di angka -0,75, yang turut mendukung pola konvektif di sebagian wilayah Indonesia.
BMKG juga mencatat Indeks Surge berada di angka +15,1, menandakan adanya aliran massa udara dingin yang signifikan ke wilayah Indonesia. Selain itu, terdapat belokan angin dan konvergensi yang semakin memperbesar potensi pertumbuhan awan hujan di Balikpapan dan wilayah sekitarnya.
Anomali suhu permukaan laut yang berkisar antara -0,5 hingga +2,6 derajat Celsius turut memperkuat proses penguapan dan meningkatkan kandungan uap air di atmosfer. Kondisi lokal ini menunjukkan tingkat labilitas atmosfer yang kuat di wilayah Kota Balikpapan.
Dengan kondisi tersebut, BMKG menilai potensi hujan sedang hingga lebat yang disertai kilat, petir, dan puting beliung meningkat signifikan. Pantauan citra radar cuaca juga menunjukkan aktivitas awan hujan intens sejak pukul 16.30 hingga 18.00 Wita pada hari kejadian.
“BMKG telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem sebanyak dua kali pada hari yang sama,” tegas Djoko.
Peringatan dini tersebut, lanjut Djoko, telah disebarluaskan melalui berbagai kanal informasi resmi BMKG, termasuk grup WhatsApp dan platform daring, kepada instansi terkait serta para pemangku kepentingan di Kalimantan Timur.
BMKG mengimbau masyarakat Kota Balikpapan untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama hujan lebat yang disertai angin kencang, kilat, petir, dan puting beliung. (SR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















