Pranala.co, BALIKPAPAN — Pertumbuhan gedung bertingkat di Kota Balikpapan membawa konsekuensi terhadap sistem kesiapsiagaan bencana, khususnya kebakaran. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Balikpapan (BPBD) menilai kebutuhan unit sky lift kini semakin mendesak, meski pengadaannya masih terkendala keterbatasan anggaran.
Kepala BPBD Balikpapan, Usman Ali, mengungkapkan harga satu unit sky lift baru berkisar di atas Rp20 miliar hingga Rp30 miliar. Nilai tersebut dinilai cukup berat bagi kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kota.
“Untuk sky lift baru, harganya rata-rata di atas Rp20 miliar sampai Rp30 miliar per unit. Ini tentu angka yang cukup besar bagi APBD kota,” ujar Usman, Minggu (15/2/2026).
Menurut Usman, keberadaan sky lift sangat vital dalam penanganan kebakaran di bangunan bertingkat. Tanpa alat tersebut, petugas akan kesulitan menjangkau titik api di ketinggian yang tidak dapat diakses menggunakan peralatan konvensional.
Ia menegaskan, risiko kebakaran di gedung tinggi memerlukan respons cepat dengan dukungan armada yang sesuai spesifikasi teknis dan kondisi wilayah.
Sebagai langkah antisipatif, BPBD Balikpapan telah mengajukan dukungan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalimantan Timur agar pengadaan sky lift dapat difasilitasi melalui skema anggaran provinsi maupun bantuan pemerintah pusat.
“Kami sudah mengajukan ke BPBD provinsi untuk ditindaklanjuti, apakah nanti melalui kementerian terkait atau melalui anggaran provinsi. Mudah-mudahan bisa dibantu,” tuturnya.
Berbeda dengan kota metropolitan yang memiliki sky lift berjangkauan hingga 100 meter, BPBD Balikpapan menyesuaikan kebutuhan dengan daya dukung infrastruktur jalan setempat.
Saat ini, kebutuhan difokuskan pada unit dengan jangkauan sekira 32 meter. Pertimbangan tersebut dilakukan agar bobot kendaraan dan tekanan terhadap aspal tidak melebihi kapasitas daya tahan jalan.
“Daya tahan aspal di Balikpapan kemampuannya sekitar itu. Tidak seperti di kota besar lain yang bisa sampai 100 meter, karena bobot kendaraan dan tekanan terhadap aspal juga harus diperhitungkan,” jelas Usman.
Selain kebutuhan unit baru, BPBD Balikpapan juga menghadapi kendala pada armada lama. Salah satu unit dilaporkan mengalami kerusakan pada sistem hidrolik.
Perbaikan sebenarnya telah diusulkan sejak tahun lalu, namun belum terealisasi akibat penyesuaian dan penurunan anggaran.
Usman berharap perbaikan armada lama dan pengadaan unit baru dapat segera terwujud agar kesiapsiagaan menghadapi kebakaran di gedung bertingkat tidak terkendala peralatan.
“Tanpa dukungan peralatan yang memadai, respons penanganan di lapangan berpotensi tidak optimal ketika terjadi insiden di ketinggian,” tutupnya. (SR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















