Bontang Laik Terapkan New Normal? Waspada Bayang-Bayang OTG

KOTA BONTANG, Kalimantan Timur mulai menerapkan new normal” atau fase kehidupan yang akan berubah usai pandemi Covid-19. Wabah ini memang telah mengubah cara-cara konvensional seperti belajar yang saat ini dilakukan melalui pembelajaran jarak jauh, bekerja yang dilakukan dari rumah, dan rapat yang dilakukan secara daring.

Pelaksanaannya baru hitungan hari. Mula-mula, Pemkot Bontang sepakat bersama lintas Organisasi Perangkat Daerah, Kementerian Agama (Kemenag), Polres, Forkopimda lainnya membuka rumah ibadah. Salat Jumat pun saat itu bisa dilaksanakan lagi.

Tentu, semuanya harus sesuai protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. Rumah ibadah misalnya. Protokol kesehatan ketat diberlakukan. Mulai dari pembersihan dan disenfeksi secara berkala, menyediakan fasilitas cuci tangan memadai dan mudah diakses. Adapula anjuran tidak membawa anak berusia kurang 12 tahun sampai tidak memakai pendingin ruangan.

Pun, warung makan hingga kafe. Ada protokol kesehatannya. Mulai dari mewajibkan pekerja dan pengunjung memakai masker; melakukan pembatasan jarak minimal 1 meter dengan tanda khusus. Terpenting wajib menyediakan cuci tangan bagi pengunjung.

Hasil evaluasi, Ahad (31/5) kemarin. Ternyata banyak warung makan dan kafe langgar aturan protokol kesehatan itu. Padahal baru saja diterapkan new normal di Kota Bontang. Malah, masjid tertib menjalankan protokol tersebut.

“Banyak terjadi pelanggaran di tempat perbelanjaan maupun kafe. Banyak kafe yang tidak mengimplementasikan protokol kesehatan COVID-19,” ujar Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, Ahad (31/5).

Evaluasi ini memang perlu. Apalagi, dari rekomendasi Pemerintah Pusat, lewat Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Letnan Jenderal TNI Doni Monardo di Graha BNPB, Sabtu (30/5/2020). Kata Doni, di Kalimantan Timur, hanya Mahakam Ulu (Mahulu) saja direkomendasikan menerapkan new normal.

Pinggiran sungai yang terletak tak jauh dari dermaga Ujoh Bilang ini juga akan difungsikan menjadi RTH. (EksposKaltim)

Ya, berdasar data, kabupaten termuda di Kaltim itu nihil Covid-19 atau Zona Hijau. Mahakam Ulu adalah kabupaten yang terdiri dari lima kecamatan dan 50 kampung. Jarak antar-permukiman di kabupaten dengan luas wilayah 15.315 kilometer persegi ini berjauhan satu sama lain. Dengan luas 21 kali wilayah Samarinda, kabupaten berpenduduk 24 ribu jiwa —37 kali lebih sedikit dari Samarinda— ini adalah yang paling renggang penduduknya.

Faktor geografis memang menguntungkan bagi Mahulu menangkal COVID-19. Kabupaten termuda di Kaltim ini berdiri jauh di hulu Sungai Mahakam. Untuk mencapainya, perlu empat jam perjalanan sungai dari kabupaten terdekat, Kutai Barat. Sementara itu, jalur darat untuk mencapai Ujoh Bilang di Kecamatan Long Bagun masih terbatas.

Pintu masuk Mahulu juga tidak banyak. Yang paling besar adalah jalur sungai melalui Pelabuhan Tering di Kutai Barat. Kondisi tersebut membuat kontrol pemerintah terhadap pergerakan manusia lebih mudah.

“Yang terpenting dari semua itu adalah kejujuran dan kesadaran warga mengenai riwayat perjalanan. Inilah sebenarnya kunci utama kami mencegah penyebaran virus,” jelas Bupati Bonifasius Belawan Geh.

Meski Bontang belum masuk rekomendasi penerapan new normal. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bontang menilai penerapan konsep normal baru di kota industri ini sudah laik diberlakukan. Alasannya, kurva pergerakan kasus virus corona bergerak landai. Jumlah kasus konfirmasi positif Covid-19 dari total 12 orang terus menyusut hingga separuh. Di samping itu hingga saat ini kasus transmisi lokal belum terjadi di Bontang. Berbeda dengan sejumlah daerah tetangga seperti Kutai Timur, Balikpapan maupun Penajam Paser Utara (PPU).

“(Pasti) sudah ada analisa mendalam artinya dalam mengambil kebijakan itu pasti dilihat dari berbagai sisi kesehatan,” ujar Ketua IDI Bontang, Suhardi kepada wartawan.

Suhardi menambahkan dari sisi medis pun penanggulangan kasus Covid-19 sudah disiapkan. Mulai dari mental hingga peralatan medis maupun rumah sakit di Bontang. “Kita sudah digembleng 2 bulan, kami tentu sudah siap, dari segi APD nya, fasilitas kesehatan, dari sisi teman-teman dari tenaga kesehatan keahlian juga kami suda siap,” ungkapnya.

Rapat lintas OPD dan Forkopimda Bontang membahas pemberlakukan New Normal di Bontang, Kamis (28/5). (HUMAS ADI)

Namun, pihaknya menegaskan hidup dalam tatanan baru bukan berarti kembali sedia kala. Masyarakat tetap harus patuh terhadap protokol kesehatan setiap saat. Intinya keberhasilan masyarakat produktif dan aman Covid-19 sangat tergantung kepada kedisiplinan masyarakat dan kesadaran kolektif dalam mematuhi protokol kesehatan. Antara lain wajib pakai masker, jaga jarak aman, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, senantiasa melaksanakan olahraga yang teratur, istirahat cukup dan tidak boleh panik serta upayakan selalu dapat mengkonsumsi makanan yang bergizi.

Selain itu, Kota Bontang yang akan memulai kembali produktivitasnya diwajibkan untuk menyiapkan manajemen krisis untuk melakukan monitoring dan evaluasi. Meski begitu, tata kehidupan baru berdamai dengan virus –atau yang biasa disebut the new-normal– akan menghadapi tantangan yang sulit: bagaimana menghadapi penularan dari orang tanpa gejala alias OTG.

“Kita tidak tahu persis, siapa di antara kita yang bisa menulari,” begitu kata juru bicara penanganan Covid-19 Achmad Yurianto, tiap kali melaporkan perkembangan terbaru pandemi yang saban hari diumumkan di televisi.

Apa yang tersirat dari pernyataan Yurianto cukup jelas: pemerintah tidak sepenuhnya mampu melacak, menemukan, dan mengisolasi mereka yang telah terjangkit virus korona.

Di antara mereka yang berada di sekitar kita, yang tampak sehat, bukan mustahil ada yang terinfeksi. Hanya karena staminanya terjaga, atau tingkat imunitasnya baik, mereka tidak (atau hanya sedikit) menunjukkan tanda-tanda sedang sakit.

Nah, pada era new-normal, ketika sejumlah aturan pengetatan sosial seperti penutupan mall, bekerja dari rumah atau beribadah di rumah mulai dilonggarkan, peluang untuk “kontak erat” dengan Orang Tanpa Geajala (OTG), sangat terbuka. “Mereka juga tidak tahu bahwa mereka membawa virus yang bisa menular,” kata Yurianto.

Kemungkinan penularan dari OTG akan semakin besar jika pemerintah kurang mampu mengidentifikasi dan mengisolasi pasien tanpa gejala. Kemampuan ini hanya bisa ditingkatkan jika pemerintah dapat melakukan pelacakan kontak yang agresif dan diikuti dengan pengetesan massal.

Berdasar data terbaru Tim Gugus COVID-19 Kota Bontang, jumlah OTG mencapai 150 orang. Dari jumlah itu 137 orang selesai pemantauan, 13 orang lagi masih menjalani isolasi mandiri.

Kondisi kesehatan OTG masih bisa berkembang, dari semula tanpa gejala menjadi dengan gejala (presimtomatis), bergantung pada kondisi kesehatan masing-masing pasien.

Artinya, posisi OTG tidak permanen. Mereka bisa berkembang menjadi pasien-positif-dengan-gejala. Itu sebabnya, menurut Yurianto, jumlah kasus OTG sudah dimasukkan ke dalam data pasien terkonfirmasi positif korona, tidak perlu kategorisasi khusus. Jadi, meski new normal, perlu mewaspadai penularan orang tanpa gejala. (*)

More Stories
Lockdown Ala China yang Sukses Lawan Wabah Corona