Pranala.co, BONTANG – Namanya Agustina. Pemilik usaha katering di Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim). Dulu dia percaya, harga tak pernah bohong soal rasa. Maka, ia rela membeli beras mahal demi sepiring nasi pulen.
Tapi bulan lalu, keyakinan itu runtuh. Nasi yang biasanya harum dan lengket justru jadi lembek, hancur, dan cepat basi. Pelanggan pun mulai berkurang.
“Saya pikir kualitasnya sama. Ternyata tidak,” katanya kepada Pranala.co, Senin (21/7/2025).
Ia mengaku rugi besar. “Pelanggan itu cari nasi pulen. Kalau enggak sesuai, mereka pindah. Saya beli mahal biar kualitasnya bagus. Tapi malah buntung,” keluhnya.
Cerita Agustina bukan satu-satunya.
Mira, penjual nasi kuning di Kelurahan Gunung Telihan juga pernah mencoba merek beras “premium” yang ternyata justru oplosan. Bukan keuntungan yang datang, melainkan kerugian.
“Saya kapok. Beli mahal-mahal, nasinya cepat basi,” ujarnya.
Ida, seorang ibu rumah tangga dari Kelurahan Api-Api, lebih jauh lagi merasa khawatir. Bukan hanya soal rasa, tapi soal kesehatan.
“Kalau ternyata dicampur bahan berbahaya, bagaimana? Saya langsung stop pakai,” katanya.
Kisah-kisah ini muncul setelah ramai dugaan beredarnya beras oplosan bermerek premium di pasaran. Anehnya, pengawasan dari pemerintah belum menyentuh soal kualitas. Dinas Ketahanan Pangan Bontang bahkan mengaku hanya memantau dari sisi merek, belum menyentuh uji kandungan atau tekstur beras.
Padahal, dampaknya sudah terasa di dapur masyarakat.
Pemerintah pusat melalui Satgas Pangan sudah menindaklanjuti temuan ini. Tapi di daerah, khususnya Bontang, pengawasan baru sebatas “cek rak supermarket”. Belum menyentuh pengecekan laboratorium atau penindakan tegas.
Bontang, kota yang biasanya dikenal dengan kualitas hidup tinggi, kini sedang diuji soal makanan pokok. Beras yang seharusnya menjadi simbol kemakmuran malah jadi sumber kecurigaan.
Di tengah situasi ini, konsumen seperti Agustina, Mira, dan Ida hanya bisa berharap: semoga nasi yang mereka sajikan kembali harum, pulen, dan aman. Bukan hanya soal selera. Tapi juga soal kepercayaan dan kesehatan.
Setidaknya ada 26 merek yang disebut-sebut dalam daftar beras premium yang diduga oplosan. Mulai dari Sania, Fortune, Topi Koki, hingga Ayana. Sebagian besar merupakan produk dari perusahaan besar.
Berikut 26 daftar merek beras premium yang diduga oplosan;
Wilmar Group
(Sampel dari Aceh, Lampung, Sulawesi Selatan, Jabodetabek, Yogyakarta)
* Sania
* Sovia
* Fortune
* Siip
PT Food Station Tjipinang Jaya
(Sampel dari Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Aceh)
* Alfamidi Setra Pulen
* Beras Premium Setra Ramos
* Beras Pulen Wangi
* Food Station
* Ramos Premium
* Setra Pulen
* Setra Ramos
PT Belitang Panen Raya
(Sampel dari Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Aceh, Jabodetabek)
* Raja Platinum
* Raja Ultima
PT Unifood Candi Indonesia
(Sampel dari Jabodetabek, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Jawa Barat)
* Larisst
* Leezaat
PT Buyung Poetra Sembada Tbk
(Sampel dari Jawa Tengah dan Lampung)
* Topi Koki
PT Bintang Terang Lestari Abadi
(Sampel dari Sumatera Utara dan Aceh)
* Elephas Maximus
* Slyp Hummer
PT Sentosa Utama Lestari (Japfa Group)
(Sampel dari Yogyakarta dan Jabodetabek)
* Ayana
PT Subur Jaya Indotama
(Sampel dari Lampung)
* Dua Koki
* Beras Subur Jaya
CV Bumi Jaya Sejati
(Sampel dari Lampung)
* Raja Udang
* Kakak Adik
PT Jaya Utama Santikah
(Sampel dari Jabodetabek)
* Pandan Wangi BMW Citra
* Kepala Pandan Wangi
* Medium Pandan Wang
[FAHRUL RAZI]
















