Belajar dari Jepang, Simak agar Tak Jadi Pesepeda yang Menyebalkan di Jalan

Sepeda di Jepang(longtaildog / Shutterstock.com)

BERSEPEDA saat ini menjadi salah satu aktivitas yang digandrungi oleh masyarakat dunia, termasuk Indonesia di tengah kondisi pandemi Covid-19.

Meski demikian, keluhan tentang pengguna sepeda yang cenderung cuek saat bersepeda di jalan raya juga banyak dikeluhkan oleh warganet di media sosial.

Lalu bagaimana agar tetap aman bersepeda? Agar tetap aman baik bagi diri sendiri maupun pengguna jalan lain, ada baiknya kita sedikit mengintip bagaimana aturan bersepeda di negara Jepang.

Negara yang terkenal dengan keteraturannya ini memiliki beberapa peraturan terkait pesepeda, yakni:

1. Pesepeda harus menggunakan jalan raya

Melansir dari situs web Kantor Kabinet Pemerintah Jepang, sepeda dalam peraturan Undang-Undang Lalu Lintas Jalan diposisikan sebagai kendaraan, sehingga pengendara sepeda harus menggunakan jalan raya di mana terdapat pemisahan antara jalan raya dan trotoar.

Sanksi apabila melanggar adalah kurungan sampai 3 bulan dan denda sampai 50.000 yen atau sekitar Rp 6,6 juta. Meski demikian, ada pengecualian bagi sepeda untuk berjalan di trotoar, yakni jika:

  • Ada rambu-rambu atau marka jalan bahwa itu jalur sepeda.
  • Ketika pengemudi merupakan anak di bawah usia 13 tahun, lansia 70 atau lebih, dan orang cacat fisik.

Selain itu, boleh melaju di trotoar jika kondisi jalan atau lalu lintas yang tak dapat dihindari dengan kondisi:

  • Sisi kiri jalan susah dilewati karena konstruksi jalan, parkir dalam waktu lama, dan sebagainya.
  • Lalu lintas sangat padat serta jalan sempit, dan risiko kecelakaan besar.
2. Bersepeda di sisi kiri

Para pesepeda harus menggunakan lajur kiri agar tetap aman. Pelanggaran untuk kasus ini adalah penjara hingga 3 bulan atau denda hingga 50.000 yen.

3. Utamakan pejalan kaki

Saat pesepeda berjalan di jalur trotoar, maka ia tidak boleh melaju kencang. Kemudian, saat ada pejalan kaki yang menyeberang maka harus berhenti dahulu dan mempersilakan ia lewat.

Membunyikan bel sepeda untuk memaksa pejalan kaki cepat minggir adalah sebuah pelanggaran di Jepang. Apabila terbukti tak mengutamakan pejalan kaki maka denda adalah 20.000 yen.

4. Wajib mematuhi peraturan keselamatan

Ada beberapa peraturan keselamatan bersepeda yang wajib ditaati, di antaranya:

  • Lampu harus menyala saat malam hari

Pengendara sepeda harus menyalakan lampu depan dan belakang (atau memasang pemantul) saat malam hari. Ini penting agar sepeda mudah dilihat sekaligus membantu penglihatan. Jika melanggar maka denda hingga 50.000 yen.

  •  Dilarang mabuk saat bersepeda

Meskipun hanya sepeda ontel, tetapi di Jepang tegas mengenai aturan pelarangan berkendara dengan sepeda saat sedang mabuk.

Jika melanggar maka hukumannya adalah penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimal 1 juta yen.

  • Tidak boleh berboncengan

Berboncengan saat naik sepeda di Jepang dilarang, kecuali untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun yang duduk di kursi bayi. Apabila melanggar denda maksimal 50.000 yen.

  • Bersepeda dengan berdampingan

Naik sepeda dengan cara bersisihan dilarang di Jepang. Hal ini cukup berbahaya karena dalam posisi ini pesepeda cenderung mendekat ke tengah jalan.

Selain itu, hal ini dapat menimbulkan terjadinya kemacetan. Sanksi yang melanggar adalah denda maksimal 20.000 yen.

  • Wajib patuhi aturan lampu lalu lintas

Pengendara sepeda diharuskan mematuhi peraturan lampu lalu lintas, termasuk peraturan lampu lintas khusus pejalan kaki dan sepeda. Sanksi jika melanggar adalah penjara hingga 3 bulan atau denda maksimal 50.000 yen.

  • Berhenti di persimpangan

Saat di persimpangan maka pengendara harus berhenti dan melambatkan lajunya sebelum menyeberang sambil menengok ke kanan dan kiri. Denda untuk pelanggaran ini adalah penjara maksimal 3 bulan atau denda maksimal 50.000 yen.

  • Anak-anak wajib memakai helm

Di Jepang, pengendara sepeda ontel anak-anak wajib mengenakan helm yang pas di kepalanya. Hal ini unuk melindungi kepala anak-anak dari luka jika terjadi kecelakaan.

  • Fokus mengemudi

Saat bersepeda maka diharuskan fokus, sehingga tidak diperbolehkan mengemudi sambil menggunakan smartphone.

Hal ini agar seseorang tidak terhuyung-huyung saat berkendara karena tengah memegang kendali sepeda dengan satu tangan.

Selain itu, tak diperbolehkan menggunakan payung saat berkendara. Pengemudi juga dilarang mendengarkan musik dengan earphone atau ponsel.

5. Persiapkan asuransi

Asuransi menjadi penting untuk mempersiapkan jika terjadi hal-hal kurang menyenangkan terjadi, termasuk kecelakaan lalu lintas. (*)

More Stories
Ditebus Rp3,5 Triliun, Lionel Messi Berlabuh ke Manchester City?