Pranala.co, BONTANG – Di usia yang seharusnya dipenuhi aktivitas belajar dan bermain, seorang anak perempuan berusia 15 tahun di Kota Bontang justru harus berjuang melawan kecanduan narkotika jenis sabu. Anak yang telah putus sekolah itu kini berada dalam kondisi ketergantungan dengan kategori sedang hingga berat. Sebuah situasi yang dinilai Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bontang sebagai peringatan keras bagi keluarga dan lingkungan sekitar.
Kepala BNN Kota Bontang, Lulyana Ramdani, mengatakan hasil asesmen menunjukkan kondisi anak tersebut cukup memprihatinkan. Penggunaan narkoba yang berlangsung bertahun-tahun membuatnya kerap mengalami halusinasi dan gangguan psikologis.
“Usianya masih sangat muda, tapi tingkat kecanduannya sudah berat. Ini menjadi alarm dini bagi kita semua, terutama orang tua, agar lebih peka dan peduli terhadap perubahan perilaku anak,” ujar Lulyana, Selasa (10/2/2026).
Kasus ini terungkap setelah BNNK Bontang menerima laporan dari tim satuan tugas di wilayah Tanjung Laut Indah. Setelah dilakukan pendalaman dan asesmen, anak tersebut direkomendasikan untuk menjalani rehabilitasi rawat inap di Pusat Rehabilitasi Tanah Merah, Samarinda.
Saat ini, proses tersebut tinggal menunggu kesiapan keluarga untuk mengantarkan anak secara resmi. “Dari pihak keluarga sudah menyatakan kesiapan mendukung proses rehabilitasi, termasuk kemungkinan rawat inap. Anak juga memiliki keinginan untuk sembuh. Ini modal penting yang harus segera kita tindak lanjuti,” jelasnya.
Lulyana mengungkapkan, anak tersebut berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi pas-pasan dan bukan dari kalangan berada. Dugaan awal menyebutkan, anak itu mulai mengonsumsi sabu karena diberikan oleh pacarnya. Namun, informasi tersebut belum dapat dipastikan.
“Informasinya seperti itu, tapi kami belum bisa memastikan karena anaknya sendiri belum mau terbuka sepenuhnya,” katanya.
Dari hasil penelusuran BNNK Bontang, perjalanan anak ini mengenal zat adiktif dimulai sejak duduk di bangku sekolah dasar dengan mengonsumsi minuman beralkohol. Kebiasaan tersebut berlanjut hingga usia SMP, ketika ia mulai menggunakan sabu dan mengonsumsinya secara rutin selama sekira tiga tahun terakhir.
“Faktor keluarga dan lingkungan memiliki peran besar dalam kasus ini. Hubungan keluarga yang kurang harmonis membuat anak mencari pelarian di luar rumah, sementara lingkungan pergaulan yang tidak sehat mempercepatnya terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba, ” jelasnya.
BNN juga mencatat, anak tersebut memiliki hubungan pertemanan dengan dua pelajar SMA di Bontang yang lebih dulu menjalani rehabilitasi pada tahun 2025 lalu. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh pergaulan dalam membentuk perilaku anak, terutama di usia rentan.
“Anak-anak sangat mudah terpengaruh lingkungan. Karena itu, pengawasan, komunikasi, dan kehadiran orang tua menjadi kunci utama pencegahan,” tegas Lulyana.
Ia berharap proses rehabilitasi dapat berjalan lancar sehingga anak tersebut memiliki kesempatan untuk pulih dan kembali menata masa depan. Kasus ini, lanjutnya, harus menjadi pelajaran bersama bahwa penyalahgunaan narkoba tidak memandang usia, latar belakang ekonomi, maupun status sosial.
“Kita doakan semoga anak ini bisa sembuh dan kembali memiliki harapan. Jangan sampai anak-anak kita kehilangan masa depan sebelum sempat meraihnya,”ajak dia. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















