Pranala.co, BONTANG – Stunting bukan sekadar soal tubuh anak yang pendek. Masalah ini jauh lebih kompleks, menyangkut kualitas hidup, kecerdasan, hingga masa depan generasi. Tak heran, Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang mengambil langkah serius. Salah satunya dengan menggandeng Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) dalam upaya percepatan pencegahan stunting.
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof. Dr. dr. Abdul Razak Thaha, menegaskan bahwa stunting tidak boleh ditangani saat sudah terjadi. Pencegahan sejak awal justru lebih penting.
“Stunting paling besar disumbang oleh anak dengan gizi kurang. Karena itu kuncinya ada di pencegahan, bukan pengobatan,” tegas Prof. Razak.
Menurutnya, ada dua cara utama: pemberian makanan tambahan (PMT) dan pencegahan stunting baru melalui paket vitamin serta mineral (MMPS). Namun, semua akan sia-sia jika tidak benar-benar dikonsumsi.
“Kalau vitamin dan mineral itu tidak diminum, tentu tidak bermanfaat. Tapi jika dikonsumsi rutin, risiko bayi lahir dengan berat rendah bisa dicegah. Begitu juga dengan ASI eksklusif, itu kunci agar anak tidak masuk kategori gizi kurang,” jelasnya.
Prof. Razak juga menyebutkan, setiap penurunan 1 persen anak gizi kurang dapat menurunkan angka stunting hingga 1,9 persen. Sementara penurunan 1 persen anak dengan berat badan kurang berdampak pada penurunan 0,9 persen stunting.
“Kalau dua komponen ini dijalankan, potensi penurunan stunting bisa hampir 3 persen. Itu angka yang besar,” tambahnya.
Meski kemiskinan sering dianggap penyebab utama, stunting juga bisa terjadi di keluarga mampu. Penyebabnya, pola makan yang tidak seimbang.
“Banyak keluarga dengan ekonomi baik, tapi pola hidupnya abai terhadap gizi. Itu juga bisa memicu stunting,” ungkapnya.
Ia mencontohkan kondisi saat pandemi Covid-19. Meski banyak keluarga miskin terdampak, angka stunting justru turun. Penyebabnya, pemerintah menyalurkan Rp71 triliun untuk jaring pengaman sosial.
“Artinya, jika jaring pengaman sosial tepat sasaran, stunting bisa ditekan. Tapi kalau bantuan tidak sampai ke penerima yang berhak, percuma saja,” tandasnya.
Di Kota Bontang, tantangan stunting masih nyata. Dinas Kesehatan mencatat ada 1.219 balita mengalami stunting. Selain itu, 65 ibu hamil masuk kategori berisiko. Ironisnya, angka kasus justru lebih tinggi di kawasan pesisir.
Karena itu, kolaborasi Pemkot Bontang dengan akademisi dinilai langkah tepat. Upaya ini difokuskan pada edukasi gizi, pemberian PMT, hingga pendampingan khusus bagi ibu hamil dan balita.
Stunting, kata Prof. Razak, tidak bisa diselesaikan dengan satu program. Butuh sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, hingga keluarga.
“Akses gizi seimbang, air bersih, dan perilaku hidup sehat adalah investasi penting agar anak-anak tumbuh sehat dan cerdas,” ucapnya.
Ia menekankan, jika pencegahan stunting baru bisa dilakukan secara konsisten, maka penurunan kasus lama akan lebih cepat.
“Kuncinya ada di gizi, edukasi, dan jaring pengaman sosial yang tepat sasaran,” tutup Prof. Razak. (FR)








