Pranala.co, BALIKPAPAN – Predikat Kota Layak Anak (KLA) kategori Utama yang diraih Balikpapan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPA) pada Mei 2025, bukan akhir dari perjalanan. Justru menjadi awal dari babak baru untuk membuktikan bahwa penghargaan itu bukan sekadar simbol.
Kini, Pemerintah Kota Balikpapan berkomitmen menghadirkan ruang publik yang benar-benar aman, nyaman, dan edukatif bagi anak. Fokusnya: membenahi Taman Bekapai dan Taman Tiga Generasi. Dua ikon kota itu disiapkan menjadi model Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA).
Langkah ini tengah dipercepat melalui penilaian mandiri dan pengisian borang evaluasi sesuai standar pemerintah pusat.
“Tujuan kami bukan hanya membangun taman yang indah, tapi taman yang membuat anak-anak merasa aman dan bahagia,” tegas Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Balikpapan, Nursyamsiarni D. Larose, Kamis (30/10/2025).
Menurutnya, predikat KLA Utama membawa konsekuensi besar: memastikan setiap anak di Balikpapan memiliki ruang publik yang benar-benar berkualitas.
Berbagai standar keamanan kini diterapkan. Tanaman berduri seperti bougenvil dilarang tumbuh di area bermain. Setiap alat permainan wajib bebas dari sudut tajam, memiliki pelindung, dan aman digunakan anak dari berbagai usia.
“Bukan hanya soal estetika. Keamanan adalah prioritas utama,” ujar Nursyamsiarni.
Konsep taman ke depan tak lagi sekadar tempat bersantai. Pemerintah ingin menjadikannya ruang belajar terbuka.
Di beberapa titik taman akan dipasang papan edukatif berisi pesan moral dan pengetahuan ringan — mulai dari nilai kebangsaan, keselamatan lingkungan, hingga pencegahan kebakaran.
“Taman harus punya fungsi ganda, tempat bermain sekaligus belajar. Semua desain diarahkan ke sana,” katanya.
Hal-hal kecil yang sering diabaikan juga jadi perhatian, seperti tinggi bangku taman yang disesuaikan dengan postur anak, serta jalur aman untuk kursi roda. Semua itu, kata Nursyamsiarni, bagian dari konsep taman inklusif dan ramah anak.
Penilaian RBRA sendiri mencakup aspek aksesibilitas, dukungan masyarakat, dan keberlanjutan fungsi taman. Dua taman percontohan ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Balikpapan — bahkan daerah lain di Indonesia.
“Ke depan, tidak boleh ada taman yang sekadar ada. Semua harus memenuhi standar ramah anak agar mereka tumbuh di lingkungan yang aman dan mendukung,” tegasnya. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami










