APD Impor Masuk Kian Deras, Merek Lokal Tak Laku, Numpuk di Gudang!

ILUSTRASI, PEKERJA MEMBUAT KOSTUM ALAT PELINDUNG DIRI (APD) DI PT KASIH KARUNIA SEJATI , BANDULAN, MALANG, JAWA TIMUR, SENIN (6/4/2020). ANTARA FOTO/ARI BOWO SUCIPTO/HP.

PENGUSAHA tekstil dan garmen dalam negeri menjerit karena produk alat pelindung diri (APD) yang diproduksi sulit terserap di pasar dalam negeri. Di sisi lain, data di atas kertas nilai APD impor justru mengalami kenaikan di tengah kemampuan produksi lokal yang sudah berlebih.

Setidaknya Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat dalam kurun waktu Januari-Mei 2020, tercatat impor APD sebanyak 2.993,34 ton atau US$ 43,48 juta. Mayoritas APD impor yang masuk pada periode Januari-Mei dari China, yakni sebanyak 2.006,18 ton.

Dari jumlah realisasi impor sebesar 41,34% APD impor masuk pada periode Januari-Februari 2020. Artinya pada kurun waktu Maret-Mei impor APD masih berlangsung, padahal di dalam negeri produksi sudah mulai gencar.

Penggunaan APD impor di tengah produksi dalam negeri sudah mampu produksi sendiri cukup memukul industri lokal. Apalagi harga APD impor yang ditawarkan lebih murah. Ditambah regulasi impor APD mengalami relaksasi. Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen (APSyFI) Redma Wirawasta mengungkapkan hingga kini masih ada ratusan ribu stok APD yang belum terserap.

“Prakiraan yang terdata kita kemarin hampir sampai 500 ribu pcs. Mungkin sekarang 300 ribu pcs. Itu level 2, 3 dan 4. Level 1 kita nggak tahu karena kebanyakan bikin IKM (Industri Kecil Menengah). Itu data API (Asosiasi Pertekstilan Indonesia) dan APSyFi. Karena saya rasa banyak juga yang tidak terdata,” kata Redma kepada CNBC Indonesia, Senin (27/7/2020).

Ia menyebut itu hanyalah bagian dari produk yang sudah jadi, sebagian lainnya masih dalam bentuk kain atau bahan baku. Jika jadi diproduksi, maka angkanya bisa lebih besar lagi.

Dengan stok APD impor sebesar itu, pelaku usaha perlu mencari cara agar produknya bisa tetap terserap. Sayangnya, saat ini permintaan APD cenderung sudah menurun. Para rumah sakit saat ini dinilai sudah memiliki banyak stok persediaan. Namun, perlu cara lain agar produk dalam negeri bisa tetap terjual.

“Kita door to door ke dokter, juga rumah sakit jika memang kekurangan. Namun, angkanya tidak terlalu besar karena kebutuhan pun nggak terlalu banyak. Paling sekitar 500 pcs,” jelas Redma.

Ia meminta pemerintah untuk bisa membantu pelaku usaha lokal agar bisa melakukan ekspor APD. Bentuk Government to Government (G2G) dirasa bisa dilakukan untuk mendorongnya.

Apalagi, sudah ada payung hukum yang memperbolehkan ekspor APD ke luar negeri setelah beberapa waktu ditahan demi menjaga kesediaan produk dalam negeri melalui Permendag Nomor 57 Tahun 2020 tentang Ketentuan Ekspor Bahan Baku Masker, Masker, dan Alat Pelindung Diri.

“Kalau ekspor didorong keluar bisa aja habis dalam sebulan misalnya, selama ini diekspor banyak ke Timur Tengah,” papar Redma. (*)

More Stories
Pasien Sembuh COVID-19 di Kaltim Tembus 175 Orang