Antisipasi Lonjakan Kehamilan di Masa Covid-19, BKKBN Kaltim Pesan 6 Ribu Lusin Kondom

BADAN Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional ( BKKBN) Kalimantan Timur mendatangkan 500 gros atau 6 ribu lusin alat kontrasepsi dari Provinsi Gorontalo.

Ribuan kondom tersebut telah dipesan dan akan dikirim ke Kaltim guna mengantisipasi lonjakan kehamilan di masa pandemi virus corona atau Covid-19.

“Stok kondom di Kaltim memang menipis. Sehingga kami pesan untuk antisipasi lonjakan kehamilan di masa pandemi,” ungkap Kepala BKKBN Kaltim Muhammad Edi Muin, Kamis (14/5).

Edi tak memungkiri imbauan beraktivitas di rumah saja, sangat berpotensi terjadi peningkatan angka hamil, karena interaksi antar hubungan suami istri hanya di rumah.

“Kami selalu menganjurkan jangan hamil dululah di masa Covid-19 ini,” harap Edi.

Selain itu, akses layanan keluarga berencana (KB) di masa pandemi pun terbatas. Sehingga langkah mendekatkan pelayanan dan penyediaan kondom yang cukup sangat penting.

“Kami menjalin kerja sama dengan para bidan dan penyuluh KB serta menyiapkan layanan call center,” jelasnya.

“Jika ada informasi layanan dari masyarakat, kami langsung arahkan ke bidan terdekat,” sambung dia.

Hal tersebut juga dilakukan guna menghindari angka putus pakai bagi keluarga yang menggunakan program KB pil, suntik, dan kondom. Sampai saat ini, BKKBN Kaltim masih mendata angka kehamilan di Kaltim selama pandemi Covid-19.

Ya, masa pandemi Covid-19 yang masih berlangsung di berbagai negara termasuk Indonesia ternyata juga berimbas pada menurunnya penggunaan alat kontrasepsi di kalangan pasangan suami-istri yang ada di masyarakat.

Hal ini bisa terjadi karena para pengguna alat kontrasepsi yang kesulitan mendapatkan pelayanan atau akses perawatan berkelanjutan alat kontrasepsi yang biasa mereka gunakan. Hal ini disampaikan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional ( BKKBN) Hasto Wardoyo.

“BKKBN mencatat penurunan penggunaan alat kontrasepsi dan hal-hal itu kan wajar karena stay at home, mereka juga tidak datang karena physical distancing, kemudian klinik-klinik juga banyak yang tutup, karena memang dia ada yang tidak bersiap di masa pandemi ini, kemudian dia takut melayani,” ujar Hasto.

Selain dari penyedia layanan yang sulit, masyarakat juga banyak yang takut untuk mendatangi atau berurusan dengan tempat-tempat layanan kesehatan, khawatir tertular virus yang tidak diinginkan.

Sehingga, pengguna alat-alat kontrasepsi yang mengurus keberlanjutan penggunaan, baik dengan pil, suntik, susuk, IUD, dan alat kontrasepsi lainnya menjadi menurun.

“Mudah-mudahan mereka ini di rumah tidak berhubungan suami-istri, mudah-mudahan. Tapi kan namanya stay at home, risiko ketemu istri itu kan tinggi,” sebut Hasto.

Mantan Bupati Kulonprogo, DIY itu menyebut, jika terjadi lonjakan frekuensi kegiatan seksual suami-istri di masa pandemi adalah hal yang wajar dan manusiawi. Namun, hal itu harus tetap dijaga, agar tidak terjadi lonjakan angka kehamilan. (*/kompas)

More Stories
Ekonomi Belum Siuman: Bank Hati-Hati Beri Kredit, Pengusaha Tunda Ekspansi