Pranala.co, SANGATTA — Upaya Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) menekan jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) mulai membuahkan hasil. Data terbaru dari Pusdatin Kemendikdasmen RI menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono, mengatakan angka ATS yang sebelumnya tercatat 12.802 anak, kini turun menjadi sekitar 9.000 anak.
“Alhamdulillah, upaya keras bersama mulai terlihat hasilnya. Per September lalu, jumlah ATS berkurang sekitar 4.000 anak,” ujar Mulyono.
Berdasarkan data awal Pusdatin Kemendikdasmen, 12.802 anak yang masuk kategori ATS terdiri dari: 9.463 anak belum pernah bersekolah, 1.451 anak lulus tetapi tidak melanjutkan, 1.888 anak drop out.
Jumlah ini sempat menempatkan Kutim sebagai salah satu daerah dengan ATS tertinggi di Indonesia. Kondisi itu membuat Disdikbud bergerak cepat melakukan pendataan mandiri untuk memastikan data lapangan benar-benar akurat.
“Kami melakukan pendataan by name by address dan validasi lintas sektor. Dari situ, kami dapat data yang lebih presisi untuk intervensi langsung,” jelas Mulyono.
Meski angka ATS turun signifikan, pekerjaan belum tuntas. Masih ada sekitar 9 ribu anak yang belum kembali ke bangku pendidikan.
“Kami optimistis bisa menurunkan lagi sekitar 4 ribu anak. Mereka akan kami dorong untuk kembali sekolah,” tambahnya.
Untuk memperkuat langkah jangka panjang, Disdikbud Kutim tengah menyiapkan proyek perubahan. Tahap awalnya adalah validasi data secara detail, agar posisi dan kondisi setiap anak dapat dipetakan dengan jelas.
“Validasi yang detail penting. Supaya kita tahu siapa, di mana, dan bagaimana kondisi anak tersebut,” ujarnya.
Selain faktor ekonomi dan geografis, Mulyono mengungkap pernikahan dini sebagai salah satu penyebab utama anak berhenti sekolah. Ia menegaskan perlunya upaya serius bersama lintas sektor untuk mengatasi hal ini.
“Pernikahan dini harus dicegah. Generasi kita bisa kehilangan masa depan jika ini tidak ditangani,” tegasnya. (ADS)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami










