Alami Gejala Mirip Covid-19? Bisa jadi Hanya Psikosomatik

Ilustrasi psikosomatik.

KEKHAWATIRAN masyarakat terhadap penyebaran pandemi Corona Virus Disease (Covid-19), wajar terjadi. Terlebih jika terus mendapat asupan informasi yang bertubi-tubi, bisa jadi tubuh “merasa” mengalami gejala-gejala Covid-19.

Tapi tunggu, jangan panik dulu. Bisa jadi kita hanya stres menghadapi kondisi seperti ini, sehingga terkena apa yang disebut sebagai psikosomatik.

“Saat pandemi seperti ini, gejala psikosomatik bisa mirip orang yang terinfeksi Covid-19 seperti batuk pilek, demam dan sesak napas,” kata psikiatris OMNI Hospitals Alam Sutera, Andri kepada CNNIndonesia.com, Senin (23/3/2020).

Psikosomatik atau fisiopatologi akan menimbulkan sakit fisik yang diakibatkan stres berlebih. Dalam kasus ini, individu yang mengalami psikosomatik merasa mengalami gejala virus korona setiap kali melihat informasi seputar Covid-19.

Andri yang juga merupakan anggota American Psychosomatic Society, membuat utas mengenai psikosomatik melalui Twitter. Pemilik akun @mbahndi ini menjelaskan, individu yang memiliki penyakit mental lebih rentan mengalami psikosomatik,

“Khususnya pengidap penyakit depresi dan kecemasan,” tulis Andri dalam cuitan yang diunggah pada Minggu (22/3/2020).

Menurut Andri, kecemasan bisa dipicu oleh berita-berita yang terus menerus terkait Covid-19. “Pusat rasa cemas atau amygdala jadi terlalu aktif bekerja, akhirnya kadang dia tidak sanggup mengatasi kerja berat itu,” katanya.

Salah satu cara untuk mengurangi gejala psikosomatik akibat amygdala yang terlalu aktif, menurut Andri, dilakukan dengan mengurangi dan membatasi informasi terkait Covid-19. “Lakukan hal lain selain browsing, lakukan hobi yang menyenangkan, dan sebarkan optimisme kita bisa lewati semua ini,” kata dokter spesialis kejiwaan lulusan Universitas Indonesia ini.

BISA CEMAS, BISA BETULAN; TETAP WASPADA

Dokter spesialis kejiwaan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Sylvia Detri Elvira menyatakan, “penghayatan” atas rasa sakit pada setiap orang, memang berbeda.

“Jika ada yang merasa batuk, pilek, asma memang harus dilihat dulu: apakah penyakitnya benaran ada atau tidak. Ada orang yang merasa sakit ringan, tapi rasanya sangat berat,” katanya kepada Lokadata.id, Rabu (25/3/2020).

Menurut Sylvia istilah psikosomatis, berdasarkan klasifikasi penyakit WHO, kini sudah diubah menjadi liasion psychiatry. “Itu cabang psikiatri yang menangani, melakukan riset dan palayanan bagi mereka yang mengalami gangguan fisik dan mental. Intinya, istilah psikosomatik masih jadi perdebatan,” kata dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Pasien kanker dan HIV, yang umumnya disertai dengan tingkat stres tinggi, kata Sylvia, memang biasa didampingi psikiater. Seandainya pasien bisa besar hati, optimistis, tidak stres, diharapkan kekebalan tubuhnya akan meningkat. “Kalau orang stres dengan sakit yang dialami, maka kekebalannya akan turun,” katanya.

Dalam kondisi pandemi Covid-19, ketenangan diri menjadi penting. Tiap orang punya level “ketenangan” masing-masing, juga punya metode relaksasi sendiri-sendiri. “Bisa dengan beragam cara, bisa lewat hobi, atau menghibur diri dengan mendengarkan musik, atau mendekat pada Tuhan bagi mereka yang religius,” kata Sylvia.

Namun Sylvia yang sudah hampir tiga dasawarsa menjadi psikiater ini mengingatkan bahwa eskalasi infeksi Covid-19 terjadi sangat cepat. “Kalau merasa ada gejala mirip Covid-19, lebih baik langsung ke dokter. Nanti biar dokter yang menentukan harus apa,” katanya.

SEJUMLAH CINTOH PENGALAMAN PSIKOSOMATIK

Sesuai definisinya, gangguan psikosomatik adalah kondisi stres berlebih yang berefek pada organ fisik. Rasa sakit fisik muncul atau diperparah oleh aktivasi sistem saraf yang berlebih.

Efek psikosomatik yang biasa dirasakan pasien adalah hipertensi, ritme napas cepat, jantung berdebar, gangguan pencernaan dan maag, migrain, sakit punggung, hingga dermatitis. Namun, psikosomatik yang dialami tiap individu bervariasi, tergantung pada emosi yang dirasakan dan bagian tubuh yang sensitif.

Beberapa orang sudah mulai merasakan stres dan psikosomatik akibat kondisi yang tak menentu. Marsha (20), perempuan yang sedang magang di perusahaan konsultan mengaku sering mendadak pilek setiap kali cemas terhadap Covid-19.

“Aku jadi kayak flu dan tenggorokan kering banget. Aku pikir aku sakit, ternyata hanya cemas berlebih,” katanya kepada Lokadata.id, Selasa (24/3/2020).

Ia menyadari efek psikosomatik ketika melihat ritme sakitnya. Biasanya, Marsha memang pilek di pagi hari, karena alergi. Eh, kali ini flunya datang sore hari. “Aku sadar ini cuma cemas ketika sakitnya ini nggak konstan, tapi datang dan pergi,” katanya.

Hal sama juga dialami Anisha (22). Mahasiswa Universitas Brawijaya ini memutuskan untuk tetap tinggal di daerah kampus dan melakukan swakarantina. Namun kegiatan social distancing menimbulkan banyak masalah untuknya.

“Bahkan aku ngerasa berdosa saat pesan makanan, karena aku harus kontak dengan orang,” ungkapnya.

Anisha mengaku social distancing membuatnya sakit secara fisik, terutama karena dia extrovert. “Semakin aku diam di kamar, semakin aku merasa gila. Ini berasa banget, kondisi mental dan fisikku selalu naik turun sejak social distancing,” katanya.

Melansir American Psychological Association (APA), paparan informasi, khususnya dari media sosial, meningkatkan kecemasan. Berdasarkan riset pada saat epidemi virus Zika 2016 silam, peneliti menemukan bahwa individu yang menerima informasi melalui media sosial mengalami peningkatan persepsi akan risiko terpapar.

Adapun hasil penelitian lainnya menunjukkan korelasi antara stres dengan swakarantina dan fokus pemberitaan media massa. Media yang menyiarkan bencana terus-menerus dapat membuat seseorang mengalami stres akut. Hal ini diperparah dengan perasaan bingung dan tertekan akibat swakarantina.

PROTOKOL KESEHATAN MENTAL WHO

Menyikapi kondisi kejiwaan akibat Covid-19, WHO telah meluncurkan imbauan penanganan kesehatan mental. Imbauan yang diumumkan pada 12 Maret 2020 berisi apa saja yang harus diperhatikan masyarakat, mulai dari kesehatan mental tenaga kesehatan hingga swakarantina.

WHO mengimbau agar publik mengurangi intensitas paparan informasi Covid-19 di media sosial untuk mengurangi rasa cemas. Media sosial bisa dipakai untuk tetap terkoneksi dengan kerabat dan teman.

Agar tak merasa stres, WHO menganjurkan untuk tetap produktif dan menjalankan rutinitas seperti biasa atau membuat rutinitas baru.

Selain itu, WHO juga menyarankan tenaga kesehatan untuk tetap menjaga diri dan berkomunikasi dengan orang terdekat, mengingat tenaga kesehatan bisa mendapatkan stigma dari masyarakat karena paling rentan terpapar korona.

“Tenaga kesehatan diharapkan dapat menjaga kondisi mental dengan pengendalian stres dan tidak malu untuk merasa stres dan cemas,” tulis WHO. ***

More Stories
Data Penerima Bantuan Covid-19 di Samarinda Banyak Salah hingga Tumpang Tindih