Akhirnya, Indonesia Juara Piala Dunia Sepakbola Meski Versi Voting Instagram

INI BUKAN FOTO DARI KOMPETISI VIRTUAL YANG DIBAHAS ARTIKEL YA. MOMEN INI SAAT TIMNAS INDONESIA MENJUARAI PIALA AFF U-22 PADA 2019 DI KAMBOJA. FOTO OLEH TANG CHHIN SOTHY/AFP

INDONESIA baru saja menjuarai piala dunia sepakbola.

Kurang dramatis? Oke, mari kita ulang pakai format capslock jebol: INDONESIA MENJUARAI PIALA DUNIA SEPAKBOLA 2020 COYYYY!!! (meski ya cuma kompetisi voting di instagram). Hei, lihat taktik penulisan judul dan kalimat barusan Kominfo? Tim kalian tak bisa lagi melabeli konten ini sebagai “hoax” seperti saat terlalu serius mengkaji meme “Menkes Terawan mundur”.

Sekalipun “juara” berbasis voting, kemenangan ini tetap layak kita rayakan. Sepatutnya kita syukuri. Dahaga prestasi tim nasional sepakbola Indonesia di level senior akhirnya terpuaskan sejenak. Sekian lama suporter Garuda berkali-kali menderita, kecewa, bahkan frustrasi melihat timnas senior binaan PSSI ‘gagal maning’ di berbagai kompetisi internasional.

Nyaris 75 tahun merdeka, prestasi timnas senior terbaik masih saja mandeg di level nyaris lolos Piala Dunia, atau medali emas SEA Games 1991 (udah lah, ga usah singgung-singgung lagi timnas Hindia Belanda yang tampil di Piala Dunia 1938, kan beda negara).

Saking seringnya kecewa, suporter ogah berharap ketika timnas junior berhasil juara Piala AFF, lantaran anak-anak muda itu diasumsikan bakal memble setelah tambah dewasa. Nasib dan citra timnas di kancah internasional makin runyam, setelah terjadi insiden suporter mengamuk di laga Indonesia vs Malaysia September 2019.

Rupanya, ketika suporter berhenti marah-marah, lantas mengambil alih peran sebagai “pemain timnas” di lapangan (virtual), prestasi segera menghampiri. Garuda juara! Mengalahkan Brasil pula di final. Luar biasa.

Tapi gimana sih ceritanya kompetisi ini bermula?

Jadi begini.

Akhir April 2020, orang-orang di balik akun seputar sepakbola @transfers, mengunggah ide yang tampaknya mereka anggap brilian: mengajak 1,1 juta follower mengikuti turnamen fantasi berdasarkan sistem voting. Aturannya sederhana. Tiap akun yang sudah follow akun ini berhak memberikan satu suara di fitur Story mereka. Tim paling banyak dapat dukungan melaju ke babak selanjutnya. Kompetisi votingnya berlabel ‘Piala Dunia’ diikuti 32 negara (sebelumnya @transfers sudah menggelar kompetisi antarklub Eropa abal-abal sejenis).

Sayangnya admin @transfers melakukan dua kekeliruan fatal. Pertama, mereka secara manasuka menetapkan 32 tim yang berlaga di putaran final Piala Dunia versi Transfers. Dari kawasan Asia Tenggara, mereka cuma memilih Indonesia sebagai wakil (ini teledor, mengingat netizen ASEAN bisa sangat kompak ketika tawuran massal di Internet). Kedua, mereka lupa, kalau warganet asal Indonesia senantiasa punya energi ekstra untuk bersikap barbar ketika mengikuti voting, giveaway, dan kuis online jenis apapun—termasuk kala merisak artis TikTok mancanegara dan bintang drama korea gara-gara alasan blo’on.

Maka, kompetisi iseng yang cocok mengisi waktu luang di tengah pandemi corona ini berubah jadi mimpi buruk warganet pencandu sepakbola negara lain. Mereka berpikir, votingnya dilandasi akal sehat, sehingga mayoritas dukungan tetap jatuh pada timnas yang di dunia nyata masuk golongan papan atas peringkat FIFA. Hah, omong kosong macam apa itu?! Voting ya voting. Pasukan Indonesia begitu digdaya memobilisasi massa agar memberi dukungan saban IG Story @Transfers membuka fitur pemungutan suara.

Di babak awal, timnas Indonesia virtual bertemu Jepang. Enteng sekali. Jepang kita tendang. Fase selanjutnya, timnas melawan Denmark. Cih, apa-apaan. Tak ada perlawanan.

Lanjut ke perempat final yang dihelat 29 April lalu, Indonesia menghadapi Spanyol. Kekuatan netizen Tanah Air kembali mampu berbicara banyak. Spanyol tersingkir dengan selisih suara amat jauh (31 persen berbanding 69 persen). Di titik ini, netizen mancanegara yang ikutan kompetisi hiburan tersebut mulai sewot.

Ketika di babak semi final Indonesia kembali sukses menumbangkan Prancis (juara dunia sungguhan saat kompetisi 2018 lalu), beberapa warganet mancanegara panik, pasrah, dan nyinyir. Kaum nyinyir ini yang paling kasihan, tampaknya mereka gagal mengapresiasi efektivitas strategi mobilisasi netizen Indonesia. Mereka terburu-buru melabelinya sikap tak dewasa kaum ‘overproud Indonesian‘.

Maaf sob, beda kompetisi, beda taktik dong. Faktor yang dilupakan kaum nyinyir, banyak netizen Asia Tenggara yang jadi follower akun @transfers, seperti dari Filipina dan Malaysia, mengalihkan dukungan buat Indonesia. Solidaritas kawasan kayak gini seharusnya berlanjut di dunia nyata.

Intinya, timnas merah putih melaju ke final menghadapi Brasil. Di dunia maya, warganet Brasil dikenal tak kalah barbar saat membanjiri kolom komentar medsos apa saja. Tanya saja sama anak-anak meme. Banyak pengamat menilai voting bakal berlangsung ketat.

Siapa sangka, final berat sebelah. Mobilisasi suara pendukung Indonesia sulit dibendung. Brasil kalah telak.

Alhasil, hiburan receh ini berakhir membahagiakan. Indonesia juara. Bahkan, admin akun Instagram resmi PSSI—yang petingginya pusing mikirin kelanjutan Liga1 selama pandemi, serta sedang diterpa isu matahari kembar di kepengurusannya—ikutan komentar (otomatis memancing nyinyiran sebagian netizen dari Tanah Air).

1588712859153-Screen-Shot-2020-05-06-at-040724
1588714282380-Screen-Shot-2020-05-06-at-043106

Nasi sudah menjadi bubur. Indonesia terlanjur juara. Warganet Instagram dari negara lain terpaksa mengakui kehebatan atlet-atlet “e-sport” dadakan nusantara perkara membanjiri proses voting. Admin @Transfers mungkin kapok ‘mengundang’ Indonesia tampil di kompetisi Piala Dunia hiburan mereka berikutnya.

Tapi nikmati saja lah kemenangan semu kali ini. Tak perlu merusak momentum bahagia ecek-ecek begini pakai ceramah bahwa tindakan netizen “memalukan”, “norak”, “overproud”, dan sebagainya. Di medsos, kita masih sering baku hantam atas banyak isu (apalagi kalau kadung melibatkan tagar bikinan buzzer). Mereka yang ikut menyumbangkan suara dalam rangka tugas negara di Instagram tempo hari pastinya berbeda usia, agama, ras, pendidikan orientasi politik, hingga seksual di dunia nyata.

Maka, berbahagialah warga Internet asal Indonesia. Tak ada kecurangan sama sekali dalam kemenangan kita di Piala Dunia jalur voting. Kita juara berkat kerja kolektif serta semangat tinggi (ehem, pengecualian buat PSSI, tolong ga usah nebeng overproud. Baca itu omelan netizen yang berjuang di kompetisi @Transfers. Peer kalian bejibun. Sekjen idola anak muda saja sampai mundur, ga kebayang deh intrik di dalam kayak gimana. Jangan sampai petinggi PSSI pada ngarep kompetisi Piala Dunia asli pakai sistem voting segala, melihat kekuatan netizen dalam negeri yang amat potensial).

Intinya, lihat, betapa mudah bangsa ini memetik prestasi ketika mau meminggirkan perbedaan sejenak?! Hasil Piala Dunia versi @Transfers merupakan simbol determinasi energi positif kita yang sering dianggap barbar. Indonesia juara! (OPINI SUMBER VICE INDONESIA)

More Stories
Pulihkan Ekonomi Pariwisata, Samarinda Dapat Hibah Rp15 Miliar