80 Pemilik Rumah di Sungai Karang Mumus Tolak Uang Ganti Rugi

Potret bangunan bantaran SKM sesudah pembongkaran oleh Satpol PP pada Rabu, 5 Agustus 2020. Sebelumnya anak Sungai Mahakam tersebut tak terlihat dari Jalan dr Soetomo karena terhalang bangunan. (Idn)

PENERTIBAN bangunan di bantaran Sungai Karang Mumus (SKM), Samarinda, Kalimantan Timur, tetap berlanjut. Padahal sebelumnya agenda ini sempat berhenti. Hingga Senin (10/8/2020) sebanyak 130 bangunan sudah dibongkar dan diratakan dengan tanah.

“Bangunan yang dibongkar ini sudah masuk zona hijau (telah menerima dana santunan). Yang berarti semuanya sudah clear atau tidak ada masalah,” ujar Kepala Seksi Operasional dan Pengendalian Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Samarinda, Boy Leonardus Sianipar, Senin sore.

Dalam agenda kali ini sebanyak 98 personel dari Satpol-PP Samarinda dikerahkan. Sembilan bangunan berhasil dibongkar. Namun petugas sempat alami kesulitan karena ada salah satu warga yang protes dan memilih membongkar bangunannya sendiri.

“Kami sempat berikan waktu, namun tak selesai. Jadi kami inisiatif memindahkan perabotannya keluar sebab waktu yang telah disekapati telah selesai,” ungkapnya.

Dari 210 bangunan yang ada di rukun tetangga 28, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Samarinda Ulu sudah ada 130 bangunan yang sepakat dibongkar, sisanya ada 80 pemilik bangunan yang belum memberikan sinyal setuju. Pihak kecamatan dan kelurahan diminta bisa memberikan pengertian kepada masyarakat.

“Persentasenya sekitar 60 persen, semoga bisa segera selesai,” harap Kepala Satpol-PP Samarinda Muhammad Darham.

Darham tak menampik warga yang menolak dibongkar rumahnya sebagian besar tak sepakat dengan pemberian dana appraisal bangunan. Besar harapan persoalan biaya ini tuntas sebab pihaknya hanya bagian pembongkaran saja. Dan tentunya kesepakatan duit santunan ini sesuai dengan harapan masyarakat.

“Satu sisi pihak keamanan ingin persuasif, kasihan yang ada di depan. Kami yang berbenturan duluan. Jadi pihak kecamatan dan kelurahan harus persuasif. Jangan sampai ada istilah pemaksaan,” pungkasnya. (*)

More Stories
Ini Alasan Islam Menganjurkan Ucapkan Selamat atas Kelahiran Bayi