27 Ribu Hektare Lahan Mangrove di Kaltim Kritis

  • Whatsapp
Kemenko Marves, KLHK, Bappenas dan BRGM mengunjungi lokasi yang bakal jadi persemaian mangrove skala besar di Desa Saliki, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara. (Foto:Pranala/Kemenko Marves)

SAMARINDA – Kalimantan Timur (Kaltim) memiliki lahan kritis mangrove seluas 27.243 hektare dan pemerintah menargetkan untuk menyelesaikan rehabilitasi seluruh lahan kritis tersebut sampai tahun 2024.

Kawasan calon persemaian ini, berada di area Delta Mahakam dengan luas 38 hektare. Persemaian ini, nanti akan menyuplai bibit mangrove untuk program rehabilitasi di beberapa wilayah Kaltim.

Bacaan Lainnya

Lokasi persemaian itu, dirancang tidak hanya untuk kebutuhan produksi, tapi sebagai sarana pendidikan/riset dan ekowisata serta diharapkan dapat menjadi model yang direplikasi di lokasi lain. Tenaga kerja lokal, juga akan terserap dalam jumlah besar untuk persemaian ini.

Persemaian mangrove yang berada dibawah koordinasi BPDASHL Mahakam Berau ini, menargetkan akan memproduksi bibit sebanyak 10 juta batang per tahun dengan mengembangkan beberapa spesies mangrove seperti Rhizophora sp, Avicennia sp, dan lain sebagainya.

Saat ini, telah ada beberapa sarana prasarana di daerah persemaian seperti mess karyawan, kantor, aula, dermaga dan rumah genset yang di lokasi demi produktivitas kawasan tersebut.

“Persemaian skala besar ini memang merupakan keinginan Presiden RI yang disampaikan kepada Menko Marves dalam ratas tahun lalu, bahwa Indonesia harus memiliki persemaian mangrove skala besar yang dapat dibanggakan ke dunia,” tutur Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Nani Hendiarti berdasarkan keterangan tertulis, Senin (5/4/2021).

Pernyataan ini disampaikannya saat mendampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan rombongan serta pejabat lainnya dari Bappenas dan BRGM, mengunjungi lokasi yang bakal menjadi persemaian mangrove skala besar di Desa Saliki, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara. Dalam kesempatan itu, mereka melakukan penanaman bibit mangrove secara simbolis.

Deputi Nani menjelaskan, bahwa Kaltim memiliki lahan kritis paling luas di antara provinsi Kalimantan lainnya.  Persemaian ini, merupakan awal yang sangat baik untuk melaksanakan percepatan rehabilitasi mangrove di wilayah Kaltim dan semoga dapat direplikasi di wilayah lainnya.

“Diharapkan, persemaian ini mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar dan juga bagi kelestarian alam kedepannya,” ungkapnya. **

Pos terkait