Pranala.co, SANGATTA – Dari 139 desa di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), masih ada 26 desa yang belum merasakan aliran listrik hingga kini. Kondisi ini menunjukkan pembangunan infrastruktur energi di Kutim masih menghadapi ketimpangan serius.
Sebaran desa tanpa listrik itu cukup luas. Satu desa di Kecamatan Muara Ancalong, dua desa di Muara Bengkal, sembilan desa di Sangkulirang, satu desa di Busang, dua desa di Bengalon, sembilan desa di Sandaran, serta empat desa di Batu Ampar.
Team Leader Perencanaan Listrik Perdesaan PT PLN Wilayah Kaltim, Agus Rudianto, mengakui bahwa persoalan utama terletak pada keterbatasan anggaran.
“Roadmap kami sudah disusun hingga 2027. Namun target 100 persen elektrifikasi akan sulit tercapai jika dana tidak tersedia,” ujarnya.
Agus menjelaskan, program listrik desa mengandalkan Anggaran Penanaman Modal Negara (APMN) yang dialokasikan pemerintah pusat untuk PLN. Selama dana belum mencukupi, sebagian desa dipastikan masih harus menunggu lebih lama.
Selain anggaran, PLN juga menghadapi kendala teknis di lapangan. Infrastruktur jalan, jembatan, hingga akses logistik ke beberapa wilayah dinilai belum memadai. Akibatnya, pengiriman material dan pengerjaan jaringan listrik terhambat.
“Transportasi material dalam jumlah besar menjadi sulit. Bahkan di beberapa wilayah usaha perusahaan lain, kami tidak bisa masuk tanpa izin resmi,” tambah Agus.
Ketiadaan listrik berdampak langsung pada kehidupan warga. Untuk penerangan, masyarakat masih bergantung pada genset, lampu minyak tanah, atau panel tenaga surya skala kecil. Aktivitas ekonomi dan sosial pun terbatas karena energi tidak stabil.
Warga berharap program listrik desa bisa segera terealisasi. Sebab bagi mereka, listrik bukan sekadar penerangan, melainkan kunci untuk meningkatkan taraf hidup, membuka peluang usaha, serta mendorong kualitas pendidikan di pelosok Kutim. (HAF)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami


















